Sinarberitajambi.id – JAMBI — Kabut asap tebal kembali meneror Kota Jambi. Aktivitas penerbangan di Bandara Sultan Thaha Saifuddin terganggu, Minggu (23/8), setelah jarak pandang anjlok hingga hanya 1.000 meter.
Kondisi tersebut memaksa dua pesawat yang terbang dari Jakarta menuju Jambi gagal mendarat. Satu pesawat dialihkan ke Batam, sementara satu lainnya harus mendarat di Palembang.
General Manager PT Angkasa Pura Bandara Sultan Thaha Saifuddin Jambi, Ardon Marbun, membenarkan pengalihan dua penerbangan akibat memburuknya jarak pandang.
“Dampak kabut asap ini secara langsung memengaruhi dua jadwal kedatangan dari Jakarta (CGK) menuju Jambi (DJB),” kata Ardon, Minggu.
Pesawat pertama yang terdampak adalah Batik Air ID 6804 menggunakan Airbus A320 registrasi PK-LAT. Pesawat tersebut membawa 138 penumpang dewasa dan satu bayi.
Pesawat dijadwalkan tiba pukul 10.00 WIB. Namun, kondisi di sekitar bandara memburuk. Pada pukul 10.45 WIB, ATC menginformasikan pesawat harus mengalihkan pendaratan ke Batam.
Saat itu, jarak pandang di Bandara Sultan Thaha tercatat hanya sekitar 1.000 meter akibat kepungan kabut asap.
Gangguan kemudian kembali terjadi pada penerbangan Super Air Jet IU 842. Pesawat Airbus A320 registrasi PK-STZ yang membawa 120 penumpang dewasa dan satu anak tersebut juga gagal mendarat di Jambi.
Pesawat yang dijadwalkan tiba pukul 11.25 WIB itu akhirnya dialihkan ke Palembang karena jarak pandang di sekitar landasan belum cukup mendukung pendaratan.
Jarak Pandang Anjlok Drastis
Ardon mengungkapkan, kondisi jarak pandang sebelumnya masih aman. Pada pukul 09.30 WIB, jarak pandang mencapai sekitar 5.000 meter.
Namun, hanya dalam waktu satu jam, jarak pandang merosot tajam menjadi 1.000 meter. Kondisi tersebut bertahan hingga sekitar pukul 11.30 WIB.
“Jarak pandang saat ini sudah kembali normal di angka 3.500 meter,” ujarnya.
Meski mulai membaik, kondisi penerbangan belum sepenuhnya pulih. Pesawat Garuda Indonesia dari Jakarta baru berhasil mendarat di Bandara Sultan Thaha pada pukul 13.44 WIB.
Sementara dua pesawat yang sebelumnya dialihkan masih belum kembali mendarat di Jambi hingga siang hari.
“Garuda siang sudah normal landing. Masih Garuda yang bisa mendarat, dua pesawat pagi yang dialihkan belum bisa mendarat,” kata Ardon.
Gangguan penerbangan ini menjadi sinyal serius bahwa kabut asap masih mengancam aktivitas transportasi udara di Jambi. Penurunan jarak pandang secara drastis membuat keselamatan penerbangan menjadi pertimbangan utama sebelum pesawat diizinkan mendarat.
Pihak Bandara Sultan Thaha Saifuddin memastikan kondisi cuaca dan jarak pandang terus dipantau untuk menentukan keamanan penerbangan berikutnya.( Helmi)











