Sinarberitajambi.id – JAMBI – Limbah sabut pinang yang selama ini kerap dipandang sebelah mata justru diolah menjadi peluang usaha oleh kelompok mahasiswa Universitas Jambi (UNJA).
Melalui Kelompok Usaha Ecopil, limbah tersebut dikembangkan menjadi bahan baku sabun cuci piring ramah lingkungan. Kini, UNJA mendorong Ecopil tidak hanya berhenti pada inovasi produk, tetapi mampu berkembang menjadi usaha yang mandiri dan memiliki pasar lebih luas.
Penguatan itu dilakukan melalui Program Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) bertajuk “Penguatan Kapasitas Produksi dan Digital Marketing Berbasis Green Cleaning Product sebagai Strategi Transformasi Kelompok Usaha Ecopil Menuju Tahapan Bertumbuh.
”Program tersebut mendapat pendanaan dari Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM) Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi melalui Skema Pemberdayaan Berbasis Masyarakat 2026.
Ketua Tim PKM UNJA, Dr. Yayuk Sriayudha, S.P., M.M., mengatakan pendampingan dilakukan untuk memperkuat Ecopil dari sisi produksi, manajemen usaha hingga pemasaran.
“Kami ingin mendorong Ecopil tidak hanya mampu menghasilkan produk ramah lingkungan, tetapi juga memiliki kapasitas produksi, keterampilan pengelolaan usaha dan kemampuan pemasaran digital yang lebih baik. Dengan begitu, Ecopil memiliki fondasi yang kuat untuk naik ke tahap bertumbuh,” ujar Yayuk.
Ecopil merupakan kelompok usaha produktif mahasiswa yang memanfaatkan sabut pinang, lerak dan eco-enzyme sebagai bahan baku utama produk green cleaning.
Ide tersebut berawal dari kepedulian mahasiswa terhadap persoalan limbah sabut pinang. Melalui proses riset dan berbagai uji coba, limbah itu kemudian diolah menjadi produk bernilai ekonomi yang dapat digunakan masyarakat.
Yayuk menilai Ecopil memiliki peluang besar untuk berkembang seiring meningkatnya perhatian masyarakat terhadap produk yang lebih ramah lingkungan.
“Keunggulan Ecopil terletak pada pemanfaatan bahan alami dan konsep produk yang lebih ramah lingkungan. Kami ingin potensi tersebut tidak berhenti pada inovasi produk, tetapi berkembang menjadi usaha yang memiliki nilai ekonomi dan mampu bersaing di pasar,” katanya.
Untuk meningkatkan kemampuan produksi, tim PKM menyerahkan sejumlah Teknologi Tepat Guna (TTG), seperti mesin pengisi cairan otomatis, stirer otomatis, oven listrik, mesin penggiling dan berbagai peralatan pendukung lainnya.
Bantuan tersebut diberikan dalam kegiatan PKM yang berlangsung di Jalan Sunan Bonang Nomor 54, RT 18, Kelurahan Simpang III Sipin, Kecamatan Kota Baru, Jambi, pada Senin (13/7/2026).
Tak hanya memberikan peralatan, tim PKM juga memberikan pelatihan kepada anggota Ecopil agar mampu mengoperasikan serta memanfaatkan teknologi tersebut secara optimal.
Dengan dukungan mesin dan peningkatan keterampilan, proses produksi diharapkan menjadi lebih cepat, efisien dan mampu menghasilkan produk dengan kualitas yang lebih konsisten.
Di sisi lain, UNJA menyadari produk berkualitas tidak akan berkembang tanpa strategi pemasaran yang kuat. Karena itu,
Ecopil juga dibekali kemampuan pemasaran digital melalui pelatihan pembuatan dan pengelolaan website yang terintegrasi dengan media sosial serta marketplace.
“Digital marketing menjadi bagian penting agar produk Ecopil tidak hanya dikenal di lingkungan kampus, tetapi bisa menjangkau konsumen yang lebih luas. Karena itu, kami mendampingi mitra mulai dari penguatan produksi hingga membangun kanal pemasaran digital,” tutur Yayuk.
Program ini turut melibatkan Prof. Dr. Ade Octavia, S.E., M.M. dan Silvi Leila Rahmi, S.TP., M.Sc. sebagai anggota tim PKM.
Melalui program tersebut, UNJA menargetkan Ecopil mampu meningkatkan kapasitas produksi, memperkuat pengelolaan usaha dan memperluas jangkauan pemasaran.
Tak berhenti di sana, pendampingan ini juga diarahkan untuk mempersiapkan Ecopil mengikuti Program Pembinaan Mahasiswa Wirausaha (P2MW) 2026.
Bagi UNJA, Ecopil menjadi contoh bagaimana inovasi mahasiswa dapat dikembangkan menjadi usaha produktif. Dari limbah yang semula tak bernilai, lahir produk ramah lingkungan yang berpotensi tumbuh menjadi kekuatan ekonomi baru berbasis kreativitas mahasiswa.( Herman)











