Sinarberitajambi.id – MUAROJAMBI — Sungai Batanghari kembali menunjukkan tanda-tanda kerusakan ekosistem. Puluhan ton ikan milik petani keramba di Kecamatan Jambi Luar Kota (Jaluko), Kabupaten Muarojambi, dilaporkan mati dalam beberapa bulan terakhir.
Kematian ikan secara massal itu menjadi pukulan berat bagi petani yang menggantungkan penghasilan dari budidaya ikan di sepanjang aliran Sungai Batanghari. Kondisi tersebut diduga berkaitan dengan menurunnya kualitas air sungai yang menjadi sumber utama kehidupan mereka.
Di Desa Sarang Burung, misalnya, petani keramba harus menerima kenyataan bahwa sebagian besar ikan yang mereka tebar tidak bertahan hidup hingga masa panen.
Musa Yusuf, salah seorang petani, mengatakan angka kematian ikan meningkat tajam dalam tiga bulan terakhir. Dari ribuan ikan yang ditebar, hanya sekitar 10 persen yang masih hidup.
“Jumlahnya banyak. Paling hanya 10 persen yang hidup dari total yang kita tabur, sisanya mati,” kata Musa Yusuf, Minggu (9/8).
Menurut Musa, persoalan tersebut semakin terasa ketika debit Sungai Batanghari menyusut akibat musim kemarau. Namun, ia menduga rendahnya debit air bukan satu-satunya penyebab kematian ikan.
Ia mencurigai adanya pencemaran limbah beracun, termasuk merkuri, yang diduga berasal dari aktivitas pertambangan emas ilegal di wilayah hulu Sungai Batanghari.
Jika dugaan tersebut terbukti, dampaknya tidak hanya mengancam usaha petani keramba, tetapi juga keberlangsungan ekosistem sungai dan masyarakat yang hidup dari sumber daya Batanghari.
“Pemerintah harus memikirkan persoalan ini agar petani ikan yang ada di sepanjang aliran sungai tidak ikut merasakan dampak aktivitas pertambangan emas ilegal,” ujarnya.
Puluhan Ton Ikan Mati Setiap Bulan
Jaluko merupakan salah satu kawasan budidaya ikan air tawar di Provinsi Jambi. Keramba masyarakat tersebar di sejumlah desa, seperti Sungai Duren, Sarang Burung, Mendalo Laut, dan Pematang Jering.
Berbagai jenis ikan dibudidayakan di kawasan tersebut, terutama ikan mas (Cyprinus carpio) dan nila (Oreochromis niloticus).
Dengan jumlah keramba yang mencapai ribuan, besarnya kematian ikan menjadi persoalan serius bagi ekonomi masyarakat.
Musa memperkirakan ikan yang mati di wilayah Jaluko dapat mencapai puluhan ton setiap bulan.
“Untuk Kecamatan Jaluko saja mungkin ada puluhan ton ikan mati setiap bulan karena di daerah ini ada ribuan keramba. Bayangkan saja, dari delapan ribu ikan yang ditabur, mungkin hanya 800 sampai 900 ekor yang hidup. Itu untuk satu petak. Kalau setiap petani punya 10 petak, tinggal dikalikan saja,” jelasnya.
Pencemaran dari Hulu Mengalir ke Hilir
Anggota DPRD Provinsi Jambi Ivan Wirata menilai persoalan Sungai Batanghari tidak bisa lagi dipandang sebagai masalah lokal. Menurutnya, pencemaran telah menjadi persoalan dari hulu hingga hilir.
Ia menyebut sumber tekanan terhadap sungai cukup kompleks. Aktivitas pertambangan emas ilegal, limbah rumah tangga, sampah, hingga limbah industri dinilai turut memperburuk kualitas lingkungan.
Kerusakan daerah aliran sungai juga diperparah oleh abrasi serta minimnya gerakan penghijauan di sepanjang kawasan DAS Batanghari.
Ivan mengungkapkan, berdasarkan laporan perusahaan air minum daerah,
tingkat kekeruhan air baku Sungai Batanghari berdasarkan pengukuran Nephelometric Turbidity Unit (NTU) bahkan mencapai 1.400 NTU.
Angka tersebut jauh di atas kisaran normal yang disebut berada pada 250 hingga 300 NTU.
Karena itu, Ivan meminta pemerintah menyusun langkah penyelamatan Sungai Batanghari secara menyeluruh dan terintegrasi, bukan hanya melakukan penanganan ketika persoalan sudah muncul di permukaan.
Ia juga mendorong agar DAS Batanghari masuk dalam Proyek Strategis Nasional (PSN), sehingga pemerintah pusat dapat terlibat lebih besar dalam upaya pemulihan dan perlindungan sungai.
“Ikan yang mati di keramba hanya contoh gejala di permukaan. Masalah sebenarnya ada pada kerusakan ekosistem di bagian hulu yang harus dibenahi. Jika DAS Batanghari diselamatkan, sungai ini bukan sekadar sumber kehidupan, tetapi investasi besar yang menopang pertumbuhan ekonomi daerah,” jelasnya.
Dalam Empat Dekade, Ratusan Spesies Ikan Hilang
Ancaman terhadap ekosistem Batanghari juga terlihat dari perubahan keanekaragaman ikan.
Peneliti ikan Sumatra sekaligus dosen Biologi Universitas Jambi (Unja), Tedjo Sukmono, mengatakan kondisi Sungai Batanghari mengalami perubahan signifikan dalam beberapa dekade terakhir.
Berdasarkan data penelitian, pada periode 1986 hingga 1994 masih ditemukan sekitar 300 spesies ikan di Sungai Batanghari.
Namun, penelitian pada 2023 menunjukkan jumlah spesies yang ditemukan hanya sekitar 135 jenis.
Menurut Tedjo, penurunan tersebut menjadi indikator adanya tekanan serius terhadap ekosistem perairan Batanghari. Aktivitas manusia yang tidak terkendali dinilai dapat semakin mempersempit ruang hidup biota sungai.
Karena itu, ia mendorong adanya gerakan bersama untuk menyelamatkan Sungai Batanghari, mulai dari pemerintah, akademisi, masyarakat hingga pihak-pihak yang memiliki kewenangan dalam pengelolaan lingkungan.
“Perlu gerakan sosial untuk penyelamatan Sungai Batanghari, penyusunan rencana pengelolaan secara bersama dan terintegrasi,” tegasnya.
Kematian puluhan ton ikan di keramba masyarakat seharusnya menjadi peringatan keras. Sebab, yang dipertaruhkan bukan sekadar hasil panen petani, melainkan masa depan Sungai Batanghari sebagai sumber air, sumber pangan, habitat ikan, sekaligus penopang kehidupan masyarakat Jambi.( Ferry)











