Sinarberitajambi.id -JAKARTA – Mantan anggota DPD RI periode 2014–2024, Dr. Fachrul Razi, M.I.P., menilai ke pentingan asing terhadap sumber daya alam (SDA) Indonesia telah berlangsung sejak puluhan tahun lalu. Menurutnya, Amerika Serikat telah memetakan potensi minyak dan emas Indonesia sejak era 1960-an sebagai bagian dari strategi geopolitiknya.
Pandangan tersebut disampaikan Fachrul Razi dalam wawancara di kanal Unpacking Indonesia Podcast, Sabtu (5/7).
Menurut Fachrul, Aceh merupakan salah satu daerah yang memiliki cadangan minyak dan emas yang melimpah. Potensi tersebut, kata dia, telah lama menjadi perhatian negara-negara besar.
“Amerika itu sudah memotret potensi sumber daya alam Indonesia dari tahun 1960-an. Sumber daya minyak dan sumber daya emas. Aceh memiliki dua potensi besar itu,” ujarnya.
Ia menjelaskan, kepentingan tersebut kemudian diwujudkan melalui masuknya perusahaan-perusahaan asing di sektor energi dan pertambangan. Sebagai contoh, ia menyebut investasi di sektor gas di Aceh melalui PT Arun yang kemudian melibatkan Mobil Oil, serta pengelolaan tambang emas di Papua oleh Freeport.
Fachrul juga mengaitkan perubahan arah kebijakan ekonomi Indonesia setelah pergantian pemerintahan pada 1966 dengan terbukanya peluang investasi asing. Menurutnya, lahirnya Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1967 tentang Penanaman Modal Asing menjadi awal perubahan kebijakan tersebut.
“Pasca peralihan kekuasaan 1966, lahir UU Nomor 1 Tahun 1967 tentang Penanaman Modal Asing. Setelah itu investasi asing mulai masuk ke berbagai sektor strategis,” katanya.
Ia menegaskan, persoalan pengelolaan sumber daya alam bukan hanya menjadi isu di Aceh maupun Papua, melainkan menyangkut kepentingan nasional dan kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Di akhir wawancara, Fachrul mengingatkan Presiden Prabowo Subianto agar berhati-hati dalam mengambil kebijakan ekonomi dan diplomasi di tengah dinamika geopolitik dunia. Menurutnya, pemerintah perlu tetap mengedepankan kepentingan nasional dalam mengelola kekayaan alam Indonesia.
“Soeharto pun jatuhnya juga karena asing. Ini Prabowo juga harus hati-hati. Jangan sampai jatuh karena tidak mau kompromi dengan kepentingan asing. Ini persoalan kedaulatan,” pungkasnya.











