Sinarberitajambi.id – JAMBI – Tawuran antarkelompok bujang madesu di Kota Jambi yang menewaskan seorang remaja mengungkap fakta baru. Bentrokan tersebut ternyata bukan perkelahian biasa yang hanya melibatkan dua kelompok, melainkan pertarungan yang mempertemukan sembilan kelompok dalam satu bentrokan.
Penyidik Satreskrim Polresta Jambi mengungkap, sembilan kelompok itu terbagi dalam dua gerombolan besar. Satu gerombolan merupakan gabungan enam kelompok, sedangkan gerombolan lainnya terdiri dari tiga kelompok yang bergabung menjadi satu.
Kasat Reskrim Polresta Jambi AKP Husni Abda mengatakan, korban merupakan bagian dari gerombolan yang beranggotakan gabungan tiga kelompok.
“Terjadi perkelahian antarkelompok. Satu gerombolan terdiri dari enam kelompok menjadi satu, sementara gerombolan lainnya terdiri dari tiga kelompok yang bergabung menjadi satu,” kata Husni Abda, Jumat (21/8/2026).
Bentrokan tersebut berakhir tragis. Seorang remaja harus kehilangan nyawa setelah mengalami sejumlah luka akibat kekerasan.
Hasil otopsi memperlihatkan kondisi korban cukup mengenaskan. Polisi menemukan empat luka tusuk pada tubuh korban. Selain itu, terdapat luka lebam di sejumlah bagian tubuh.
“Dari hasil otopsi, ada luka-luka. Ada luka tusuk di empat titik dan luka lebam di seluruh tubuh,” ungkap Husni.
Temuan tersebut menjadi bagian penting dalam penyidikan. Polisi kini mendalami bagaimana rangkaian kekerasan terjadi hingga menyebabkan korban meninggal dunia.
Penyidik juga telah mengamankan sejumlah orang yang diduga terlibat dalam tawuran. Mereka diperiksa secara intensif untuk mengungkap peran masing-masing dalam bentrokan tersebut.
Dua orang yang telah diamankan masing-masing berusia 18 tahun dan berinisial AG serta RS.
Polisi masih terus mengembangkan kasus ini. Tidak hanya mengungkap siapa yang terlibat dalam tawuran, penyidik juga mendalami pihak yang diduga memiliki peran dalam kekerasan yang menyebabkan korban meregang nyawa.
Kasus ini menjadi perhatian serius karena aksi bujang madesu telah berkembang menjadi kekerasan kelompok yang mengancam keselamatan masyarakat. Tawuran yang melibatkan banyak kelompok menunjukkan bahwa persoalan tersebut tidak bisa lagi dianggap sebagai kenakalan remaja biasa.
Kini, aparat kepolisian bergerak untuk mengurai seluruh rangkaian kejadian dan memastikan setiap pihak yang terbukti terlibat harus mempertanggungjawabkan perbuatannya di hadapan hukum.( Helmi)











